Kurasa, gempita raya tak lagi selaras dengan murungnya semesta
Kaki-kaki langit tak berpihak pada kawula jelataSubsidi, hanya menguntungkan mereka yang hidup dikota besar,
yang beriak kaya harta bendanya
Dan kulihat, Senyum petani yang raib diatas sawahnya sendiriKorban pestisida
Digenang tumpahan mata air langit
berminggu-minggu
berbulan-bulan.
Kudengar,
Kawih yang biasanya riuh rendah
kini sepi iramanya, sunyi nadanya
Pertiwi,
Kemana gemah ripahmu
Setelah dirampas paksa para penambang asing
Petinggi,
Mudahnya kau lacurkan bangsamu
Mudahnya parafmu tergurat
Lihatlah, sesamamu yang melarat
Hidup, diantara hidup dan sekarat

Tidak ada komentar:
Posting Komentar