Menu Arju

Jumat, 01 April 2011

Kenangan, dari sebuah ekstrakulikuler perang antar pelajar

Di perempatan jalan itulah tersendarkan kenanganku.
Di antara trotoar yang kian berdarah, toko-toko terlelap igaukan masa laluku. Tiga tahun yang begitu cepat berlalu seperti angin yang merenda hembusnya, membelai lembut tubuhku sejenak saja.
Kisah yang sebentar itu masih lekat di nalarku.

Saat itu, waktu baru pukul 13.00 siang. Di perempatan Victor Road tampak seorang gadis dengan wajahnya yang penat kemerahan menunggu mobil angkutan umum yang tidak juga datang.
"Hy.. kamu mau pulang bareng gak?" Tanyaku sambil menepikan motorku ke pinggir trotoar
"Boleh.. beneran nih gak ngerepotin?" sahut gadis itu
"Gak apa-apa kok, beneran" Jawabku.
"Alhamdulillah. Akhirnya dia mau juga pulang sekolah bareng ama guw" Gumamku girang dalam hati.

Aku senang tak alang kepalang. Malamnya aku tidak bermimpi memeluk bulan atau mencumbui bintang gemintang, gadis bunga dikelas kejuruanku bersedia kuantarkan pulang.

Tapi kemeronaan diwajahku hanyalah sejenak, sampai datang na'as yang cemburu pada kebetuntunganku.
Tadinya aku memang lupa, bahwa hari itu adalah hari penghujung minggu yang rutin dimanfaatkan oleh siswa-siswa seantero kotaku untuk ajang berjibaku, unjuk kekuatan warisan ego purbakala. Bahkan siswa-siswa yang tidak bersangkutan dalam ajang tawuran itu pun kerap menjadi korban. Dihujam batu, atau dipukuli balok kayu.
Mengingat hal itu aku pun tersadar bahwa aku tidak sendiri, diboncengan motor ada Mahadewi yang duduk manis bagai sinden yang tengah bersenandung didalam keraton. Sesekali ia berkata padaku dengan suaranya yang risih
"Mas, aku takut nih. Cari jalan lain aja mas, di depan banyak anak-anak STM yang tawuran"
"Iya, kita coba lewat Green square Road yah!" Jawabku lemas karna merasa bertanggung jawab atas ajakanku pulang bersama.

Aku tak banyak befikir, apalagi untuk menerobos sela jalan tempat sekumpulan siswa purba beradu kekuatan. Yang kupikirkan hanyalah keselamatan Cleopatra yang duduk diboncengan motor bututku.
Kami pun berbelok ke arah Green square Road.
Tapi sesampainya disana bukan keadaan jalan yang lengang dan tenang yang kami jumpai. Malah sebaliknya, Kedua kubu sekolah dari kecamatab yang berbeda sedang beringas mengadu otot. Ada yang bengis memukul lawannya dengan balok kayu, ada yang sibuk menghindari lemparan batu, dan ada yang fokus dengan pengendara-pengendara motor yang berseragam sekolah, lalu memukulnya jatuh dari motor. Melihat keadaan itu, sontak kuhentikan laju motorku.
"Mbak, di Green square Road juga ada yang tawuran. Kita cari jalan lain lagi yah" Kataku yang semakin risih
"Iya mas, cari jalan lain lagi aja" Jawab gadis itu.

Sial, kenapa ada saja perkeruh yang mengotori momen terindahku. Bukankah negara punya banyak sekali aparat? Dari TNI, Polisi, sampai yang paling bawah Satpol PP misalnya. Apakah TNI tengah sibuk berperang juga? Apakah Polisi seantero kotaku sedang sibuk menangkap maling atau malah duduk berleha-leha di warung kopi, sambil menyusun schedule acara tetek bengek mereka? Apakah Satpol PP hanya terikat prosedurnya untuk menganiaya pedagang kaki lima? Lalu untuk apa banyak aparat. Tidak berguna. Makan gaji buta.
Ah,, kenapa juga aku berfikir tentang aparat-aparat pandir.

Aku kembali fokus pada ratu bilqis yang ada dibelakangku. Kami yang was-was memutuskan untuk berbelok ke arah kanan menuju Nirwana Road. Tp apes, keadaan serupa pun terjadi disana, Tawuran purba juga terjadi di jalan itu. Kemudian kami menuju Heaven Road, keadaan masih sama.
"Mbak, gimana nih? Apa kita nunggu aja disuatu tempat sampai tawuran mereda?" tanyaku dengan suara yang serak ketakutan
"Iya mas, gimana baiknya aja deh" jawab gadis itu
"Trus, kita nunggu dimana?" Tanyaku
Gadis itu diam, mungkin karna bingung dan tak tahu harus kemana. Jalan-jalan utama dipenuhi pertarungan pemuda-pemuda yang disemayamkan maha-ego di kepala mereka. Batu-batu berterbangan, jalanan lengang dari kendaraan, tapi sesak dengan pertarungan. Kami dengan mudahnya menjadi tumbal empuk atas kengerian itu jika kami memaksa menerobos masuk ke jalan yang mereka jadikan arena tawuran itu.

Semua jalan yang kami lewati sama saja keadaannya. Tawuran berjibaku, tawuran dan berjibaku, rasa-rasanya kota telah menjelma menjadi latar ekstrakulikuler perang pelajar. Dan yang menjadi korban dari kegilaan itu adalah siswa-siswi yang biasa-biasa saja atau yang disiplin perangainya seperti kami.

Hari mulai sore. Tampak kilau senja menghampar di seluasan langit buana. Udara dingin perlahan mencakar kulit insani, buah negosiasi siang dan si malam. Tapi perang pelajar belum juga mereda, apalagi berakhir. Banyak pelajar-pelajar yang baik, menunggu di sekolah sampai kondisi kembali aman dan kondusif. Dan ada juga yang seperti kami, yakni, terjebak di pertengahan kota arena tempur. lalu mencari tempat yang aman dan kondusif untuk sekedar menunggu tawuran usai.
"Mbak, kita nunggu dimana nih?" tanyaku
"Gak tahu mas, semua tempat dipakai tawuran. aku juga bingung" jawab gadis itu putus asa.
*
Setelah lamanya kami mencari tempat yang kondusif dari ajang tawuran. Akhirnya, kami terhenti di sebuah taman perkotaan yang didalamnya dipenuhi anak-anak bermain, dan para Ibu yang menunggu anaknya bermain.
"Mbak, kita nunggu disini aja yah" kataku sembari senyum sedikit karna senang dapat tempat yang kondusif
"Iya, mas, disini kayaknya jauh dari riuh anak STM yang tawuran" jawab gadis itu yang juga senang
"Hey dik, sini!!" genit gadis itu menggoda anak kecil.
Gadis itu sangat menyukai anak kecil, mungkin karna ia bungsu yang tidak memiliki adik.

Gadis itu sangat menikmati suasana nan damai di taman itu. dan kami tak lagi sibuk menghindari batu-batu yang berterbangan, tapi malah sibuk bercanda dan bermain dengan anak-anak kecil disana.
Sesuai dengan harapan. Kukira hari akan terisi dengan rasa was-was, tapi nyatanya; Hari itu berlalu menyisakan senyum di masing-masing rona wajah kami.
horeeeee,,,, Tawuran mungkin telah usai

Tidak ada komentar:

Posting Komentar