Gadis itu hanya bisa duduk termangu dan meratap.
Di rona wajahnya tersirat sebuah penyesalan, karna ia baru sadar, bahwa Toni, orang yang paling ia benci telah menjelma menjadi martir berani mati
yang telah mengorbankan nyawa buatnya, Ranti.
-
Semua bermula ketika Toni menaruh hati kepada Ranti. Setiap hari yang ia lewati di sekolah tak luput daripada usahanya mengakrabi Ranti. Bagai bulan kehilangan langit ia buang rasa malunya.
Ia bahkan tak peduli dengan cemoohan Ranti dan kawan-kawan yang menjulukinya dengan sebutan 'Brenuk Busuk'. Julukan yang amat buruk.
Tapi ia tak peduli. Bagai plastik yang disulut dahana ia tetap meradang, biar meleleh mukanya menahan malu, retinanya telah dibutakan rasa.
Tapi Ranti malah sebaliknya. Ia benci setengah mati pada Toni.
Bagaimana tidak, Ranti yang selama ini menjadi bintang pelajar di sekolah dan mendapat predikat bunga sekolah, kini terkecap sebagai target incaran Toni, si buruk rupa yang paling pandir di sekolah.
Toni memang berbeda dengan teman-temanku yang lain. Mungkin Tuhan mengaruniainya dengan kepercaan diri yang lebih, sehingga berkali-kali ia dicela dan di dera, ia tetap maju tak kenal malu. Terlebih lagi celaan itu datang dari Ranti sendiri, gadis yang paling ia cintai.
Toni pribadi yang sabar dan penyayang. Hanya saja ia kurang kharisma untuk menarik simpati. Dalam sebuah obrolan ngalor-ngidul di kantin sekolah, ia pun mengakui kemiskinan kharismanya.
"Den, guw emang jelek rupa. Tapi nggak hati guw. Guw bakal buktiin sama semua. Bahkan guw rela mati demi Ranti" Ocehan Toni meradang
"Lu jangan ngomong kayak gitu Ton. Tanpa lu korban diri pun guw yakin lu bisa dapetin si Ranti, asalkan lu usaha terus" Tukasku menyemangati Toni yang kian hari kian berapi-api.
-
Ocehan Toni ternyata bertuah.
Pada suatu ketika, ada acara seminar yang di adakan di PT. BANGKIT JAYA Tangerang, yang lokasinya bersebrangan dengan sekolah kami.
Dari kejauhan 10 Meter tampak Ranti bersama dua orang temannya tengah menunggu lengangnya jalan raya, untuk kemudian menyebrang menuju PT. BANGKIT JAYA tempat di adakannya Seminar. Dan dari kejauhan itu pula Toni mengawasinya.
"Den, Lady Rose guw tuh" Tukas Toni membanggakan Ranti
"Iya deh yang punya Lady rose. Lho, kmu kok gak nganterin Ranti Ton?" Tanyaku
"............." Toni diam, khusyuk mengawasi gadis pujaannya menyebrang jalan.
Selang dua menit kemudian, mulai tampak gerak langkah Ranti dan kedua orang temannya.Bagai tiga ekor kura-kura yang berjalan di daratan, mereka melangkah lamban.
Ajang mengawasi Ranti membuat sepi suasana. Hingga pada akhirnya Toni jua-lah yang memecah sepi dengan teriakannya
"RRAAAANNN!!! AWWAAAASSS!!!!!!!!!!!"
Sontak kami terkejut.
Toni, dengan larian secepat kijang ia mencoba meraih Ranti yang sedang dalam bahaya, Truk pengangkut beras dengan laju kecepatan yang tinggi mengarah tepat ke tubuh Ranti yang mungil. Ranti panik, dan kaku untuk berlari. Sedang Toni berusaha untuk dapat menyelamatkannya.
Toni mendorong rosi jauh dari ancaman mobil truk yang hampir mencium tubuhnya. Namun naas, Toni tak mampu menghindarkan dirinya sendiri.
Hempas mobil itu memelantingkan Toni hingga jauh, jatuh tak sadarkan diri.
Aku dan teman-teman lainnya yang berada di tempat kejadian langsung membawanya kerumah sakit terdekat, tanpa pikir panjang biaya masuk UGD dan tetek bengeknya. Diantara kami yang membawa Toni, ada Ranti dengan wajahnya yang miris, sesekali terlihat upayanya menahan tangis dengan melonggarkan matanya, hingga air matanya menjadi berkubang di retina.
-
Sesampainya kami di rumah sakit.
Dari kaca ruang UGD aku melihat Toni yang sudah terkapar tak berdaya. Kami semua panik, dan sesekali kutanyakan kondisi Toni pada dokter yang menanganinya, dokter itu hanya menjawab "Kami akan berupaya semaksimal mungkin. Untuk saat ini kami belum bisa memastikan kondisinya. Masih butuh perawatan intensif" Kata dokter
Tak lama kemudian kedua orang tua Toni pun datang. Ayah dan ibunya datang dengan wajah yang juga panik tak alang kepalang. Wajah ibunya basah dan memerah, pucat tidak keruan. Dengan nada yang panik ia bertanya padaku perihal kondisi Toni. Tapi aku bingung mau jawab apa, aku hanya bisa mengalihkan pertanyaannya pada dokter yang bersangkutan.
-
Hari hampir gelap, kami harus pulang karna takut mengkhawatirkan orang tua kami di rumah.
Ranti yang sedari sedari tadi memampangkan wajah ratapnya, enggan pulang dan ingin tetap tinggal menemani Toni di rumah sakit. Tapi dengan memberi sedikit bujukan akhirnya ia mau ku antarkan pulang.
"Ran, Udah deh, mending kita pulang dulu aja. Guw yakin Toni gak apa-apa. Kita banyak berdoa aja buat kesembuhannya. Klo perlu besok kita jenguk lagi" Tukasku membujuk Ranti agar mau pulang.
Ranti hanya mengangguk.
"Jam berapa, Den?" Tanya Ranti
"Pagi aja, kira-kira jam 07.00 kita kesini, besok kan libur" jawabku.
Ranti diam lagi dan hanya mengangguk.
Kemudian aku pulang sembari mengantarkan Ranti, karna rumah kami cukup berdekatan.
-
Dirumah, aku kembali memikirkan Toni, teman baikku yang tengah terkapar di ranjang rumah sakit. Tapi aku tak mau berlama-lama memikirkannya, aku harus tidur karna besok pagi aku harus menjenguknya bersama Ranti.
Entah sakit apa yang kini diderita Toni. Aku juga tak habis pikir atas ocehan Toni yang amat bertuah. Sikap Ranti terhadap Toni pun berubah drastis setelah kejadian itu.
Dipenghujung kantuk, ada sebait do'a buat Toni, sebelum lelapku tertidur.
-
"KKKRRRIIIIINNNGGG!!!!! KRRRIIIIIINNGGGG!!!!!!!!KRRRRIIIIINNNGGGG!!!!" Terdengar suara alarm jam membangunkanku.
Waktu masih pukul 05.00 pagi.
"Ah,, masih ada waktu buat mandi, sholat shubuh, makan dan rapi-rapi" gumamku dalam hati.
Aku pun ingat dengan Ranti. Karna ini hari kami berniat untuk menjenguk Toni di rumah sakit.
"Oia, Ranti udah rapi-rapi belum yah" gumamku
Aku langsung meraih handphone-ku, dan membuka empat panggilan tak terjawab, rupannya panggilan tak terjawab itu dari Edy dan Ranti. Serta satu pesan masuk di inbox-ku. satu pesan masuk itu ternyata dari Ranti.
"HHHHAAAAHHH!!!!" Bagai si buta yang jatuh ke jurang, Aku terkejut tak alang kepalang.
"Den, maaf guw berangkat duluan tadi.. Toni udah gak ada den
Sent 12-01-2010
Ranti
085692293626" isi SMS dari Ranti
Aku tak banyak fikir, sontak ku keluarkan motor dari dalam kamar, lalu meluncur laju menuju rumah sakit. Hah!! Aku masih tidak percaya.
Sesampainya aku di rumah sakit. aku melihat teman-temanku yang lain telah berkumpul di sana. Bagai bintang malang yang tertegun ditengah sekabut nebula, aku hadir dan menyatu dengan kawan yang berkabung.
"Den, tadi telpon guw kenapa gak diangkat?" Tanya Edy lirih kepadaku.
Aku hanya diam, semalam tadi aku tertidur dengan sangat lelap, sehingga suara sebising apapun luput dari indera pendengaranku.
-
Aku melihat Ranti yang meratap disisi kanan jasad Toni terkapar, bersama kedua orang tua Toni ia menangis lara, hening pun lara sekali. Seisi kamar rumah sakit dipenuhi mendung yang menyelubung. Aku tidak menyangka ini akhir dari perjuangan Toni selama ini. Dan aku akan selalu merindukan canda dan kekonyolannya, serta kegenitannya menggoda Ranti.
----------
Toni,,
Ia telah pergi membawa harapan yang gamang pun hampa.
Dan harapannya itu berada tepat disisi jasadnya, menangis meratap, menangis dan meratap, dengan sesal yang membiak di dalam dada.
handal juja oeyy,,, bikin cerpen hehee gd luck ben,,
BalasHapus