Dua anak gelandangan dengan tampang yang corat-marut datang dan beristirahat di sebuah surau tua, larut malam itu, setelah seharian penuh mereka berpeluh menggapai-gapai nasib baik yang entah dimana adanya. Di lampu merahkah? di kubangan sampahkah? di pasar tradisionalkah? di dalam gerbong kereta api kelas jelatakah? Atau, di dalam dompet-dompet yang telah dicopetnya seharian itu? Entahlah, yang pasti, nasib baik memang selalu singgah dimana saja dan untuk siapa saja, bahkan untuk pencopet kelas kutu seperti mereka.
Marong maupun Sagol, ternyata tidak hanya singgah sesaat, sekadar menumpang duduk atau beristirahat. Diatas lantai berdebu itu mereka mulai menghitung omset dan membagi dua hasil mencopet yang telah didapatnya seharian itu. Keduanya saling membantu dengan seksama dan hati-hati, takut mana tahu ada orang yang kebetulan lewat dan mengetahui apa yang sedang mereka lakukan. Karna jika dilihat dari penampilan mereka, orang-orang pasti akan curiga. Bagaimana mungkin anak-anak gembel seperti mereka punya sebegitu banyaknya dompet kulit yang mewah rupanya. Apalagi isi dompetnya pun terbilang sangat banyak untuk manusia-manusia sekelas mereka. Tapi kemudian rasa was-was itu mereka buang jauh-jauh lantaran suasana surau yang hanya dihuni sepi, sama saja dengan surau-surau lainnya (Aneh. Orang sekarang lebih betah beribadah di warung kopi, diskotek, atau tempat lainnya sehingga surau-surau pun menjadi sepi dan abai)
**
Sesaat setelah kegiatan membagi hasil telah mereka selesaikan, tinggalah kini waktu mereka tuk berleha-leha dan merebahkan badan di atas lantai surau yang agak kotor berdebu. Namun, dengan sangat mengejutkan seorang Pria Tua hadir di tengah kebersamaan mereka.
Kehadiran Pria Tua berjenggot itu jelas menampar kegembiraan mereka, walau pun sebenarnya Pria Tua itu datang dengan senyuman yang ramah dan wibawa. Rasa was-was yang tadinya redup kini menyala-nyala dan menyulut ketenangan mereka.
“Celaka. Apakah sedari si Tua Bangka itu melihat kegiatan bagi-hasil yang kami lakukan?” Gumam Marong dalam hati.
“Gol, kita pindah yuk. Perasaan gue gak enak nih!”Bisik marong bergetar dengan nada yang was-was. Sagol terdiam.
Dan tanpa menunda-nunda akhirnya mereka pun pergi menjauh dari pandangan Lelaki Tua yang murah senyum itu. Akan tetapi, baru beberapa langkah saja Marong dan Sagol berjalan, Pria Tua itu kemudian memanggil mereka dengan nada yang juga wibawa sewibawa senyum ramahnya.
“Nak, kalian mau kemana? Sini, ngobrol-ngobrol dulu dengan Bapak” Panggil Pria Tua itu dengan santun seraya menginginkan Sagol dan Marong untuk kembali dating dan menemaninya.
“i..iya, Pak”, sahut marong terbata-bata karna rasa was-wasnya.
“Rong, gawat nih. Mending kita lari aja dari sini”, bisik Sagol.
“Jangan, Gol! Kalau kita lari, bukan malah kita selamat. Tapi sebaliknya kita malah mendatangi maut”,
“Nak, ayo sini ngobrol-ngobrol dulu sama Bapak!”, panggil Pria Tua itu kembali.
“i..iya, Pak”, sahut Sagol gugup.
“Wah.. bahaya nih, Gol. Udahlah kita pasrah aja. Kalau pun si Tua Bangka itu tahu kita yang sebenarnya, kita suap aja dia dengan uang penghasilan kita seharian ini” tukas Sagol.
“Lha. terus Nanti kita mau makan apa, Rong?” Tanya Sagol.
“Itu gak usah dipikirin. Yang terpenting adalah mala mini kita bias pulang dengan selamat. Emangnya lu mau jadi bulan-bulanan masa, kalau sampai ‘tuh Bapak Tua neriakin kita copet?”
“Bener juga lu, Rong. Ya udah, kita datangin aja panggilan Bapak itu”
Setelah berdiskusi singkat perihal mentaati atau lari. Pada akhirnya mereka pun sepakat untuk mentaati saja panggilan si Bapak Tua. Di satu sisi, Marong dan Sagol dirasuki kecamuk yang menggila di kepalanya. Ada tiga kemungkinan yang bisa saja terjadi:
Pertama. Pria Tua itu akan meneriaki mereka dengan sebutan ‘Copet’ sehingga datanglah masa yang membawa serta maut di tangannya.
Tapi dengan fikir yang mulai agak tenang. Marong dan Sagol mendatangi panggilan si Bapak Tua itu.
“Nak, sini! Bapak sudah tahu, bahwasanya kalian itu pencopet. Tapi jangan takut, Nak. Bapak cuma mau ngobrol saja dengan kalian”.
Marong dan Sagol makin tak karuan. Ternyata si Bapak Tua itu tahu siapa mereka dan apa yang barusan tadi mereka kerjakan, dengan perasaan yang gugup mereka pun duduk berhadapan dengan Beliau.
“Tenang, Nak. Bapak gak akan minta uang tutup mulut dari kalian. Bapak bukan setan alas seperti hakim yang melulu gampang disuap atau seperti koruptor yang licik bin culas. Dan bapak juga tahu, kalian pasti punya alasan yang membuat kalian terpaksa mencopet. Kalian punya perut yang sewaktu-waktu bisa mengamuk karna lapar. Sama seperti Saya dan manusia kebanyakan”
“Nak, yang pakai topi. Siapa namamu?”lanjutnya
“saya Marong, Pak”
“Dan yang satu lagi. Yang rambutnya dicat kuning?”
“Saya Sagol, Pak”
“Kalian masih sekolah?”
“Tidak, Pak” jawab Marong sambil menundukkan kepala.
Bapak Tua itu termenung dan mengelus jenggotnya. Dia teringat dengan janji yang dulu pernah diucapkan oleh Walikota sewaktu PEMILU KADA tiga tahun silam. Saat kampanye Walikota itu berkata: “Saya punya misi untuk menuntaskan pengangguran, dan saya akan mengedepankan pendidikan guna kehidupan rakyat yang lebih baik”. persetan. Janji tinggallah janji. Toh, sampai saat ini tidak ada perubahan dan realisasi yang signifikan. Malah semakin hari semakin banyak penangguran, dan semakin hari semakin susah rakyat miskin mencari makan.
Bapak Tua itu mengangkat kepalanya. Melihat jauh kea rah depan. Sejenak saja, seolah Ia telah mengarungi jalan nan panjang,
Sembari mengambil nafas kemudian Ia berkata: “Kasihan kalian, Nak. Bocah sepantaran kalian seharusnya menyibukkan diri di sekolahan. Bukan di jalanan atau di pasar” tukas Bapak Tua.
Marong dan Sagol dimasuki sunyi. Kini mulai timbul rasa nyaman di hati mereka. Hingga si Bapak Tua itu meneruskan perkataannya: “Nak Marong dan Nak Sagol, tentunya kalian tahu hokum mencuri dalam agama?”
Marong menganggukan kepala. Sagol hanya terdiam.
“Tentunya kalian mau menghentikan kegiatan haram kalian dan ikut dengan bapak bekerja. Bagaimana?”
“Kerja? Kerja apa, Pak?” Tanya Marong.
“Kerja di Dinas Kebersihan sebagai tukang angkut sampah”
“tukang angkut sampah” Tanya sagol heran.
“ya.. tukang angkut sampah. Tentunya pekerjaan itu lebih mulia daripada mencopet. Dan Tuhan akan lebih senang hati mencium kita yang mencari nafkah dengan cara yang halal. Tuhan ‘kan mencium kita dengan sepenuh kasih dan saying, walaupun kita bau sampah”
Suasana menjadi hening. Kembali Marong dan Sagol dimasuki sunyi.
“Bagaimana, Nak?” Tanya si Bapak Tua untuk yang kedua kali.
“Ya sudah, Pak. Kami mau” jawab Marong singkat.
Mendengar jawaban yang dilontarkan Marong, Sagolpun menjadi sinis. Lagi pula, bukankah menjadi tukang angkut sampah sama halnya melumuri diri dengan bau yang menjadi-jadi. Tapi dengan sedikit penjelasan Marong pun berhasil meyakinkan Sagol bahwa tidak ada salahnya untuk mereka mencoba. Dan pada akhirnya mereka pun sepakat.
“Pak, klo saya boleh tau, Nama bapak siapa?” Tanya Marong
“Saya Yunus. Panggil saja Pak Yunus
********
Keesokan harinya di pukul 07.00 pagi. Marong dan Sagol pun ikut bekerja dengan Pak Yunus. Mereke menangkut sampah dari satu tempat ke tempat yang lain untuk kemudian dibuang dan dibakar di tempat pembuangan akhir sampah. Di bawah terik matahari yang semakin menjadi-jadi, Marong dan Pak Yunus tampak tengah giat menangkat dan menumpahkan sampah ke dalam bak mobil sampah. Berbeda dengan Sagol yang jengkel setengah mati dengan apa yang tengah dikerjakannya kali itu
“Ah.. Gara-gara si Marong bego nih gue jadi apes. Coba semalam tadi dia tolak ajakan Pak Yunus, pasti gue gak akan sengsara kayak begini nih” Marong menggerutu sendiri layaknya seorang monolog yang tengah tampil di atas panggung.
“Kenapa, Gol. Kok kusut gitu tampang lu. Laper yah? Ya udah kita makan aja dulu!” Marong mendekati Sagol.
“Gak, Rong. Guw gak lapar. Guw Cuma gak tahan aja nih.. Cabut yuk. Kita balik nyopet aja lagi!”
“wah.. Lu kok gitu, Gol. Kita kan udah sepakat buat berhenti nyopet. Jangan nyerah gitu dong, Gol! Ini adalah proses dimana nantinya kita akan mencium Tuhan, dan proses dimana nantinya Tuhan mencium kita. Kita udah ninggalin yang haram, dan sudah bisa menjalani yang halal, Tuhan pun akan bertambah saying kepada kita, Gol” tukas Marong menyemangati Sagol
“Apa, Rong? Tuhan mencium kita? Mencium bagaimana? Toh sampai tenga hari gini kita gak punya apa-apa. Beda kalau kita nyopet. Tengah hari gini kita pasti udah pegang uang. Buat makan, buat jajan”
“Sabar, Gol”
“Sabar gimana?”
“Ya sabar. Kesabaran juga salah satu bagian dari proses kita mencium Tuhan”
“Lagi-lagi mencium Tuhan yang lu bilang. Mana buktinya, Rong? AAAARRRRRGGGHH!” Kekesalan Sagol memuncak. Sampai-sampai tong sampah yang ada di hadapannya pun dilempar jauh entah kemana. Setelah meluapkan kekesalannya pada Marong. Sagol kemudian naik ke dalam mobil, tepatya di sebelah bangku supir ia merebahkan badan hingga tertidur. Pak Yunus hanya mengeluskan dadanya melihat apa yang telah Sagol perbuat. Tapi sesaat kemudian……….
“BRAAAKKK!!!” Suara tong sampah yang jatuh, bersamaan dengan suara teriakan perempuan
“Suara apa itu, Rong?” Tanya Pak Yunus.
“Sepertinya suara tong jatuh yang barusan dilempar Sagol, Pak. Tapi kok disertai suara jeritan. Sepertinya suara itu menimpa seseorang, Pak” jawab Marong.
“Ayo kita lihat dulu ke sana!” ajakan Pak Yunus sembari berjalan kearah dimana sumber suara itu berasal.
Dugaan kami ternyata benar. Tong sampah yang dilemparkan Sagol menimpa tepat di kepala seorang perempuan baya. Perempuan Baya itu pingsan tak sadarkan diri. Di dahi sebelah kanannya terdapat luka memar dengan sedikit luka yang berdarah. Pak Yunus terlihat panik dan menyuruh Marong ‘tuk segera membangunkan Sagol di mobil
“Gol, Bangun! Cepat bantuin gue!” ucap Marong dengan nafas yang memburu.
“Kenapa sih, Rong? Gue masih capek”
“CEPAAATT!!!” Marong menarik tangan Sagol yang lunglai karna mengantuk, ke tempat perempuan itu tergeletak.
Sesampainya mereka di sana:
“Gol, liat tuh perbuatan lu. Gara-gara lu lempar tong, itu ibu jadi ketimpah” ucap Marong dengan nada yang kasar. Sagol terdiam panik.
“Udah.. jangan saling menyalahkan. Sekarang lebih baik kita bawa ibu ini ke rumah. Kita obati beliau sampai siuman” tukas Pak Yunus
Akhirnya mereka pun membawa Ibu Tua yang pingsan itu ke rumah Pak Yunus. Di sana Marong menyeka luka memar dengan kain halus yang telah dibasahi air hangat.
Beberapa saat kemudian. Ibu tua itu pun siuman. Pak Yunus langsung menanyakan banyah hal kepada Ibu Tua itu. Namun Ibu tua itu hanya bisa mengingat namanya saja:Rosidah. Rupanya Ibu Tua itu telah pikun, mungkin karna factor usianya yang telah senja.
Sementara di luar rumah, Marong tak hentinya menyalahkan dan memarahi Sagol atas apa yang telah diperbuatnya sewaktu bekerja tadi. Sebentar Sagol memandangi wajah Ibu Tua yang naas itu, namun sebentar pula telinganya sakit mendengar makian dari Marong yang makin menjadi-jadi. Sagol pun memutuskan untuk pergi menenangkan pikiran, berlintas pukang kemana langkah membawanya tenang. Sejenak ia melihat jauh kearah depan, tampak Adi, teman lamanya yang tengah sibuk merapikan koran jajakan. Sagol pun mengampiri temannya tersebut.
“Di” sapa Sagol sembari menepuk bahu belakang Adi.
“eh, Gol. Gue kirain siapa. Dari mana nih?”
“jalan-jalan” jawab Sagol singkat dengan wajah yang masam.
“Gol, denger-denger sekarang lu udah gak nyopet lagi yah?
“hehe. Iya. Sekarang gue udah tobat, Di” jawab Sagol sambil tersenyum tolol dan meraih satu Koran jajakan Adi.
“Gol, awas lecek tuh nanti Koran gue lecek. Lagi segala sok-sok’an baca Koran luh, kayak bisa baca aja” tukas adi dengan nada yang guyon. Sagol tertawa kecil mendengar guyonan Adi.
Sagol meneruskan kegiatan membaca korannya. Di halama pertama ia menyimak berita tentang anggota DPR yang tertangkap basah melakukan praktek korupsi, di halaman kedua ia menyimak berita tentang artis yang telah merekamb aksi persetubuhan dan disebarkan ke jaringan internet. Kemudian ia pun membuka halaman yang ketiga, halaman yang dipenuhi dengan iklan, informasi lowongan pekerjaan, dan informasi orang hilang. Ia membaca semuanya tanpa ada yang terlewatkan. Sampai ia di barisan pojok Koran:tempat berita dan informasi orang hilang, ia melihat foto yang sepertinya ia kenal.
“Astaghfirlloh.. Ini kan Ibu yang tadi ketimpah Tong” gumam Sagol sembari melihat foto orang hilang yang terpampang di Koran. Melihat itu Sagol pun langsung berlari membawa Koran temannya tanpa pamit.
“Gol, mau kemana lu? Koran gue jangan dibawa!”
“Gue cabut dulu, Di. Nanti Koran lu guw bayar!!” Sagol berteriak kepada Adi sambil berlari sejadi-jadinya menuju rumah Pak Yunus.
Sesampainya Sagol di rumah Pak Yunus:
“BRAAKK!!” Sagol membuka pintu dengan nafas yang terengah-engah.
“Kenapa, Gol. Kok ruwet gitu?” Tanya Pak Yunus heran karna prilaku Sagol yang kelojotan layaknya kambing kebakaran jenggot.
“ini, Pak, coba dibaca!” pinta Sagol sambil menunjukkan berita orang hilang di lembar pojok Koran. Dan Pak Yunus pun mengerti, dan dengan tenang ia meminta Marong dan Sagol untuk menjaga Ibu Rosidah di rumah. Sementara ia bergegas ke kantor Polisi guna melapokan keberadaan Ibu Rosidah yang kini ada di kediamannya. Polisi pun segera memproses dan mengabarkan kepada keluarga Ibu Rosidah. Setelah memberi keterangan Pak Yunus pun diperbolehkan untuk pulang.
“Sebentar lagi keluarga Ibu akan menjemput” tukas Marong kepada Ibu Rosidah sembari melepaskan senyum.
Tak lama kemudian Pak Yunus pun sampai di rumah:
“Gimana kelanjutannya, Pak?” Tanya sagol yang sedari tadi berdiri di sisi pintu rumah untuk menunggu kedatangan pak Yunus.
“Kita tinggal menunggu keluarga Bu Rosidah datang, Gol. Mungkin setelah ba’da isya mereka sampai” jawab Pak Yunus.
********
Setelah 2 jam lamanya mereka menunggu, akhirnya keluarga Bu Rosidah pun datang.
Sebuah mobil Zaguar berwarna hitam diparkirnya di depan halaman rumah Pak Yunus yang tidak terawat itu. Dengan langkah yang tergesa, keluarga Ibu Rosidah pun turun dari mobil. Pak Yunus menyambut mereka hangat.
“Silahkan masuk, Pak. Ibu sedang beristirahat di kamar belakang”
Ternyata satu dari tiga orang anggota keluarga Bu Rosidah adalah Dr.Jumhana, konglomerat yang sangat terkenal di negri ini.
Sesampainya mereka di dalam rumah Pak Yunus yang berantakan itu: tangis bahagiapun pecah. Dr.Jumhana memeluk erat Ibunya yang sudah 3 bulan lamanya tidak ia temui.
********
Setelah kejadian itu, Marong, Sagol, dan Pak Yunus tidak lagi bekerja sebagai tukang angkut sampah. Sagol dan Marong dibiayai sekolah dan diangkat sebagai anak Dr.Jumhana. sagol dan Marong kini menjadi anak seorang konglomerat yang hidupnya serba berkecukupan. Sedangkan Pak Yunus, selain diberangkatkan naik haji, ia pun diberikan modal untuk berdagang oleh Dr. Zumhana…
“Rong ini kah saat-saat di mana Tuhan tengah mencium kita?”
“Bukan hanya saat ini. Saat yang lalu, saat kita susah, saat kita melarat, Tuhan selalu mencium kita. Hanya saja kita yang tidak peka”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar