Melihat langit,
menghitung jarak pancaran senja ke muka bumi
Meraup butiran-butiran pasir erupsi
Mengepal lara, lalu mengunyahnya lunak-lunak
Ditengah kehancuranku
Mentri kabinet sumbang celotehnya dari atas langit
Puisi-puisi cinta, konyol berkidung di telinga
Ini kehancuran, belum saatnya kau pamerkan cinta dan kidungmu
Hmm,, haram jaddah
Itu tai kucing baunya pekat di hidungku
Cinta itu Garpu dan Sendok
Jika uangku habis, maka cintamu sepah.
Jika motorku kujual, maka cintamu kontal.
Jika mobilku hilang, maka cintamu terbang ke awang-awang.
Jika parasku rusak, dan jika hidupku berubah menjadi belangsak.
maka cintamu, hilang di tengah semak.
Ya,, cinta itu hanya sekedar wacana
Hanya sekedar tema puisi, yang seringkali cerak di dalam larik.
Cinta itu baskom, atau garpu dan sendok, nafsu berkedok.
Itu saja kan?
Sajak ban bocor
Jalan ini tandus,
penuh onak di atas aspal
Trotoar berduri kuterjang tanpa sandal
Panas, kemarau, parau, haus, aura
Matahari, bumi, dan satpam mall dgn kepala yg bercula tiga
Aku termangu di bawah dusta seorang tukang tambal ban
Di ruko sebelah,
Kumpulan pemuda-pemuda tukang parkir, kletokan kantong patungan beli bir
Di sebrang jalan sana,
tampak dua orang pengemis dengan anak-anaknya dan paras yg pesimis
Pak, ban belakang bocor
-Arju
BSD 10-02-10; 12.30
Permohonan
Apakah, nyaliku masih ada
Setelah badai itu datang menggertakku
Apakah, jantungku masih ada
setelah runcing panah menancap keras di dadaku
Apakah, kekasihku masih setia.
setelah rusak paras tampanku
Apakah, keyakinaku masih kepadaNYA
Setelah nyaliku hilang
setelah jantungku lepas
setelah kekasihku pergi berlalu
_
Ya Allohu ya rahman
Di bawah buana yang kau ciptakan,
Aku mengemis,
memohon keteguhan tiangnya hati
Tetap dalam cintaMu
Ya Allohu ya rohim
Sisipkan peredam ke dalam gendang telingaku
Biar petir gemakanku
Kokoh khusyukku dalam naunganMu
Ya Allohu ya malik
Kilau dunia kerap merabunkan retinaku
Sering ku terjebak dalam fatamorgananya
Tunduh dalam bualan manisnya
Dunia, kerap membuatku buta
Tuntun langkahku, laku, dan stiap pandangan mataku
Aku gampang khilaf Imanku, tipis
Ya Allohu ya kuddus
Usia menggilingku,
Zaman melindasku
Nyawa, menjadi bom waktu di dalam jasadku.
Beri sedikit masa
belum aku siapi diri untuk kembali
Yang terakhir
Selamat tinggal,
kuucapkan salam perpisahan pada bokongmu
Di atas pesinggahan lawasku,
Diatas jambangan terakhirku
ku tinggalkan jejak lara yang baru
Wahai yang terakhir,
ini keserakahanmu
ini benarbenar sajak sayy,, good luck
BalasHapus