Menu Arju

Jumat, 11 Februari 2011

5 tulisan goblok dalam satu entry

Puisi ketidak tepatan

Melihat langit,
menghitung jarak pancaran senja ke muka bumi
Meraup butiran-butiran pasir erupsi
Mengepal lara, lalu mengunyahnya lunak-lunak

Ditengah kehancuranku
Mentri kabinet sumbang celotehnya dari atas langit
Puisi-puisi cinta, konyol berkidung di telinga
Ini kehancuran, belum saatnya kau pamerkan cinta dan kidungmu

Hmm,, haram jaddah
Itu tai kucing baunya pekat di hidungku


 Cinta itu Garpu dan Sendok

Jika uangku habis, maka cintamu sepah.
Jika motorku kujual, maka cintamu kontal.
Jika mobilku hilang, maka cintamu terbang ke awang-awang.
Jika parasku rusak, dan jika hidupku berubah menjadi belangsak.
maka cintamu, hilang di tengah semak.

Ya,, cinta itu hanya sekedar wacana
Hanya sekedar tema puisi, yang seringkali cerak di dalam larik.
Cinta itu baskom, atau garpu dan sendok, nafsu berkedok.
Itu saja kan?


Sajak ban bocor

Jalan ini tandus,
penuh onak di atas aspal
Trotoar berduri kuterjang tanpa sandal
Panas, kemarau, parau, haus, aura

Matahari, bumi, dan satpam mall dgn kepala yg bercula tiga
Aku termangu di bawah dusta seorang tukang tambal ban
Di ruko sebelah,
Kumpulan pemuda-pemuda tukang parkir, kletokan kantong patungan beli bir
Di sebrang jalan sana,
tampak dua orang pengemis dengan anak-anaknya dan paras yg pesimis

Pak, ban belakang bocor
-Arju
BSD 10-02-10; 12.30


Permohonan

Apakah, nyaliku masih ada
Setelah badai itu datang menggertakku

Apakah, jantungku masih ada
setelah runcing panah menancap keras di dadaku

Apakah, kekasihku masih setia.
setelah rusak paras tampanku

Apakah, keyakinaku masih kepadaNYA
Setelah nyaliku hilang
setelah jantungku lepas
setelah kekasihku pergi berlalu
_
Ya Allohu ya rahman
Di bawah buana yang kau ciptakan,
Aku mengemis,
memohon keteguhan tiangnya hati
Tetap dalam cintaMu

Ya Allohu ya rohim
Sisipkan peredam ke dalam gendang telingaku
Biar petir gemakanku
Kokoh khusyukku dalam naunganMu

Ya Allohu ya malik
Kilau dunia kerap merabunkan retinaku
Sering ku terjebak dalam fatamorgananya
Tunduh dalam bualan manisnya
Dunia, kerap membuatku buta

Tuntun langkahku, laku, dan stiap pandangan mataku

Aku gampang khilaf Imanku, tipis

Ya Allohu ya kuddus
Usia menggilingku,
Zaman melindasku
Nyawa, menjadi bom waktu di dalam jasadku.
Beri sedikit masa
belum aku siapi diri untuk kembali


Yang terakhir

Selamat tinggal,
kuucapkan salam perpisahan pada bokongmu
Di atas pesinggahan lawasku,
Diatas jambangan terakhirku
ku tinggalkan jejak lara yang baru

Wahai yang terakhir,
ini keserakahanmu



1 komentar: