Menu Arju

Rabu, 09 Februari 2011

Buang Sial


Tertawa sampai mati
Gelisah hingga uzur

Di dapur,
Cicak itu jatuh di kepalaku
Astaghfirlooh,,, Pertanda apa lagi ini?

Apakah,
Setelah berkali-kali koma dalam hidup
Setelah berkali-kali jeda bernafas
masih adakah pertanda yang nista pangkalnya


Tertawa sampai mati
Gelisah hingga uzur

Langkah dari kelanaanku mandet disini
Busana kutanggalkan,
Lompat tanpa risih tajamnya karang di dasar

Akh,,, Aku terlanjur mati
Hati terlanjur padam pekanya


Tertawa sampai mati
Gelisah hingga uzur

Mandi di pantai
Buang sial

5 komentar:

  1. benarkan!
    mencoba memahami tapi tetap tak mengerti

    maksudnya, ku mencoba menyadur tulisanmu tp sulit
    kirain jalannya lurus tp ternyata berkelok

    BalasHapus
  2. Hehehe.. itu karna ke-amatiran-ku.
    Klo tulisan bu'be, enak bgt dibacanya :)

    BalasHapus
  3. bukan amatiran,
    tp aku pikir masing2 punya gaya sendiri2 dlm menulis

    dan yg tampak jelas berbeda gaya penulisannya adalah dirimu, cik gu n kang danu cos ada sesuatu yg khas di setiap tulisannya

    BalasHapus
  4. Ah gak bu'be..
    Bu;be jg khas tulisannya :)

    BalasHapus